Jakarta — Bagi sebagian besar masyarakat, pengalaman pertama merasakan kehadiran negara tidak terjadi di kantor pemerintahan atau ruang birokrasi, melainkan di jalan raya. Di situlah polisi lalu lintas berinteraksi langsung dengan warga — mengatur, membantu, menegur, dan memberi solusi. Oleh karena itu, kinerja Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi publik tentang negara.
Di bawah kepemimpinan Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, Korlantas menempatkan jalan raya sebagai ruang publik utama di mana negara hadir secara nyata. Kehadiran negara ini tidak hanya melalui aturan, tetapi juga melalui sikap, empati, dan kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Di jalan raya, negara pertama kali dirasakan masyarakat,” ujar Irjen Agus dalam berbagai kesempatan.
Pernyataan ini menjadi dasar penting dalam arah kinerja Korlantas yang menempatkan jalan raya bukan hanya sebagai arena pengaturan lalu lintas, tetapi sebagai wajah negara yang dilihat oleh masyarakat sehari-hari. Kehadiran Polantas di ruang publik ini juga semakin menguatkan citra negara yang melayani, bukan sekadar mengawasi.
Jalan Raya sebagai Etalase Kehadiran Negara
Setiap hari, jutaan warga Indonesia berinteraksi dengan Polantas. Interaksi ini sering kali membentuk kesan yang mendalam, bahkan menetap lama dalam ingatan mereka. Cara petugas menyapa, memberi solusi, dan menjelaskan aturan menjadi representasi langsung tentang bagaimana negara memperlakukan rakyatnya.
Korlantas memandang bahwa citra negara tidak hanya dibangun melalui kebijakan di tingkat pusat, tetapi melalui praktik sehari-hari di lapangan. Oleh karena itu, kinerja Polantas diarahkan untuk mencerminkan nilai-nilai pelayanan publik yang profesional, humanis, dan berorientasi pada solusi.
Dalam beberapa tahun terakhir, data Korlantas Polri menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam angka kecelakaan lalu lintas. Pada 2023, terdapat 99.123 kecelakaan dengan 15.876 korban meninggal. Angka ini turun menjadi 89.867 kecelakaan pada 2025, dengan korban meninggal berkurang menjadi 12.552 orang. (Sumber: Korlantas Polri). Penurunan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan penegakan hukum, tetapi juga menunjukkan efektivitas pendekatan humanis dalam menciptakan keamanan sosial.
Di berbagai titik jalan raya, interaksi dengan warga bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan kesempatan bagi negara untuk hadir dengan cara yang lebih manusiawi. Visual nyata dari interaksi ini—seperti senyum petugas, pengendara yang diberi arahan dengan ramah, atau pengemudi yang mendapat bantuan—merupakan pesan emosional yang jauh lebih kuat daripada slogan atau aturan tertulis.
Menyapa dan Melayani: Membentuk Kepercayaan Publik
Selama bertahun-tahun, persepsi publik terhadap lalu lintas seringkali identik dengan aturan dan penindakan. Namun, di bawah kepemimpinan Irjen Agus, Korlantas berupaya menggeser fokus tersebut. Aturan tetap penting, tetapi harus dilengkapi dengan pelayanan yang penuh empati.
Polantas saat ini tidak hanya berperan sebagai pengatur arus lalu lintas, tetapi juga sebagai penjaga keselamatan yang siap membantu kapan pun dibutuhkan. Misalnya, petugas Polantas yang membantu pengendara motor yang kelelahan di tengah macet panjang, atau memberi arahan kepada kendaraan yang salah jalur di tengah kerumunan kendaraan.
“Mengatur lalu lintas bukan hanya soal menertibkan, tetapi memastikan masyarakat bisa bergerak dengan aman dan nyaman,” kata Irjen Agus.
Pernyataan ini menegaskan bahwa kinerja Korlantas diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat, bukan hanya dari ketegasan penindakan.
Dalam kepemimpinan Irjen Agus, empati bukan dipandang sebagai kelemahan, tetapi sebagai bagian dari profesionalisme Polantas di lapangan. Polantas yang paham kondisi masyarakat, tekanan perjalanan, dan situasi darurat akan lebih mampu mengambil keputusan yang tepat.
Pendekatan empatik ini bisa dilihat ketika Polantas memberi prioritas pada kendaraan darurat, membantu pemudik yang kelelahan, atau menenangkan pengendara yang panik. Semua tindakan ini memperkuat persepsi bahwa negara hadir untuk melindungi, bukan sekadar mengawasi.
Korlantas menyadari bahwa empati harus dibangun melalui pembinaan internal yang konsisten. Kinerja Polantas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kemampuan komunikasi dan pengendalian emosi yang lebih mendalam.
Negara Hadir Melalui Tindakan Nyata
Kehadiran negara di jalan raya diukur bukan dari banyaknya spanduk atau slogan, tetapi dari tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketika Polantas sigap membantu, memberi solusi, dan menjaga arus lalu lintas tetap aman, negara hadir secara konkret.
Pendekatan ini menjadi semakin penting dalam momen-momen krusial seperti arus mudik dan balik. Pada saat volume kendaraan meningkat tajam, peran Polantas sebagai wajah negara menjadi semakin terlihat. Polantas mengarahkan kendaraan dengan penuh perhatian, membantu yang membutuhkan, dan memberi solusi bagi pengendara yang menghadapi masalah.
Pada saat seperti ini, visual nyata yang memuat ekspresi Polantas dan interaksi dengan masyarakat menjadi kunci pesan yang kuat tentang bagaimana negara seharusnya hadir: melayani dan melindungi, bukan sekadar mengawasi.
Irjen Agus menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak bisa dipaksakan, tetapi harus dibangun melalui konsistensi sikap dan pelayanan. Kepercayaan yang terbentuk melalui pengalaman langsung masyarakat di jalan raya menjadi modal penting bagi Korlantas dalam menjalankan kebijakan jangka panjang.
“Kepercayaan lahir dari pengalaman. Apa yang masyarakat rasakan hari ini akan menentukan bagaimana mereka memandang negara ke depan,” ujarnya.
Dengan dasar kepercayaan yang dibangun di jalan raya, Korlantas mempersiapkan diri untuk fase berikutnya dalam transformasi keselamatan lalu lintas. Masyarakat yang merasa dilayani dan dihargai akan lebih terbuka terhadap perubahan dan inovasi yang akan datang, baik dalam hal kebijakan maupun teknologi.
Polantas sebagai Simbol Negara yang Melayani
Lebih dari sekadar pengelola lalu lintas, Polantas berperan sebagai simbol negara yang melayani. Di jalan raya, Polantas menjadi penghubung langsung antara kebijakan negara dan kehidupan masyarakat. Setiap interaksi di lapangan mencerminkan sikap negara terhadap rakyatnya.
Dengan menempatkan jalan raya sebagai ruang utama kehadiran negara, Korlantas memperkuat peran Polantas sebagai institusi pelayanan publik yang mengutamakan kepercayaan masyarakat. Melalui layanan yang humanis dan empatik, Polantas menghadirkan negara dengan cara yang lebih nyata dan dipercaya oleh publik.
Kinerja Korlantas Polri di bawah kepemimpinan Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho menunjukkan bahwa keselamatan lalu lintas adalah kerja bersama antara negara dan masyarakat. Melalui pendekatan humanis yang berbasis pada interaksi nyata dan empati, Korlantas membangun citra negara yang hadir, bukan hanya melalui peraturan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pendekatan ini memperkuat peran Korlantas sebagai pengelola lalu lintas yang melayani, bukan sekadar pengawas yang mengatur. Melalui setiap interaksi yang positif di jalan raya, negara dan masyarakat bersama-sama membangun keamanan, ketertiban, dan keselamatan yang berkelanjutan.

